Candi Mendut
Candi-candi peninggalan agama Buddha Mahayana yang memiliki
kaitan erat dengan Candi Borobudur adalah Candi Pawon dan Candi Mendut,. Candi
Mendut merupakan pintu masuk ke tiga serangkai candi ini, terletak di pertemuan
dua sungai penting yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo. Berlawanan dengan
candi-candi lain yang umumnya menghadap ke timur, jalan masuk Candi Mendut
menghadap ke arah barat. Mungkin berhubungan dengan harapan pembangun candi agar
menerima wahyu sebagaimana sang Buddha di arah barat di Taman Rusa di Benares.
Candi Mendut, menurut ahli prasasti Dr. J. G. De Casparis, disebutkan dalam
prasasti-Karangtengah (dekat Temanggung) dengan nama Venu Vana Mandira yang
artinya “candi di tengah rumpun bambu.” Candi Mendut memiliki panjang 13,7
meter dan lebar 13,7 meter, sedangkan tingginya 26,5 meter. Candi ini
“ditemukan” pada tahun 1834 oleh para seradu Belanda, dan direstorasi pada
tahun 1897-1904. Para ahli menduga Candi Mendut didirikan pada tahun 784-792
Masehi oleh Raja Indra, ayah Raja Samaratungga. Ada juga pendapat yang
mengatakan bahwa Candi Mendut didirikan oleh Raja Samaratungga sendiri yang
beragama Buddha dibantu oleh bawahannya Rakai Garut yang beragama Hindu sebagai
perlambang bagus dan harmonisnya hubungan antar agama pada masa itu di kalangan
masyarakat Jawa Kuno. Sewaktu candi ini dipugar, ditemukan bahwa Candi Mendut
dibangun di atas candi lain peninggalan agama Hindu. Casparis menduga Candi
Mendut dibangun untuk memuliakan leluhur raja-raja Syailendra. Pendapat lain
mengatakan bahwa Candi Mendut dibangun untuk mengenang kotbah pertama Sang
Buddha di Taman Rusa di Benares.
Atap candi berbentuk piramid, dengan batu pengancing di
tengahnya, semua batu atap bertumpu pada batu pengancing ini. Ukiran timbul
atau relief yang ada di dinding sebelah timur candi melukiskan Bodhisatwa
(Mansjuri dan Samanthabadra) yang dikenal oleh payung yang dibawanya. Di
dinding selatan dilukiskan Dewi Tara keluar dari teratai di sebuah kolam yang
airnya berasal dari air mata Avalokiteswara, yang duduk di atas padmasana,
meneteskan air mata melihat penderitaan umat manusia. Di dinding belakang candi
dilukiskan Avalokiteswara dan Kagarba yang membawa pedang. Ukiran raja-raja
yang mengapit mereka merupakan raja-raja dinasti Syailendra. Sedangkan di
dinding sebelah utara tampak ukiran timbul Dewi Tara, sebagai Sakti Buddha.Ukiran timbul lainnya diambil dari Kitab Jataka, mengisahkan Cerita Tantri dari dunia hewan. Salah satunya menggambarkan seekor monyet yang harus menipu para buaya supaya dirinya selamat. Para buaya ingin makan hati monyet dan monyet tersebut mengatakan bahwa hatinya ada di pohon mangga berupa buah mangga sehingga si buaya membawa monyet ke pohon mangga untuk mengambil hatinya dan monyetpun selamat dari terkaman buaya. Di dinding sisi utara pada tangga terdapat ukiran timbul kisah kepiting dan brahmana, di mana suatu kali seorang brahmana menyelamatkan seekor kepiting dan di kelak kemudian harinya si kepiting membalas budi sang brahmana dengan menyelamatkan dia dari gigitan ular berbisa.
Ukiran lainnya mengisahkan kisah angsa dan kura-kura, yang
memberi pelajaran kepada kita bahwa diam itu emas, sedangkan banyak mulut
terkadang membawa malapetaka, sebagaimana kisah angsa dan kura-kura di dinding
candi. Pada suatu ketika, kolam air yang menjadi kediaman sepasang kura-kura
kering oleh musim kemarau panjang sehingga kura-kura suami istri berpikir-pikir
untuk pindah tempat tinggal. Sahabatnya sepasang angsa bersedia menolong mereka
pindah ke kolam lain yang dalam airnya. Untuk mengangkut sepasang kura-kura
sahabatnya itu, sepasang angsa membawa sebatang kayu dan masing masing
menggigit ujung kayu tersebut dengan paruhnya. Kura-kura suami istri menggigit
kayu di tengah-tengah sehingga angsa dapat membawa mereka terbang dengan
selamat sampai di tujuan. Sebelum memulai perjalanan, angsa suami istri sudah
memberi peringatan supaya apapun yang terjadi, sepasang kura-kura tersebut
harus diam tidak boleh bersuara sebab bila mereka membuka mulut, mereka akan
jatuh dan mati. Demikianlah, mereka terbang dengan selamat sampai di suatu
tempat di mana berdiam banyak anjing liar. Anjing-anjing tersebut melihat
kura-kura dan angsa yang sedang terbang dan salah seekor anjing bertanya kepada
temannya,” He, kawan. Lihat, angsa-angsa itu terbang membawa sesuatu. Apa ya
yang dibawanya?” Teman-temannya tahu bahwa yang dibawanya itu kura-kura, namun
dengan bercanda mereka menjawab,”Ah. Paling-paling mereka membawa terbang tahi
kebo.” Kura-kura suami istri marah dikatakan tahi kebo dan mereka menyahut,”He.
Kami bukan tahi keboooo….” Dan saat itulah mereka jatuh menjadi mangsa anjing-anjing
liar.
Pada jalan masuk lainnya terdapat ukiran pohon kehidupan yaitu Kalpataru dan makhluk sorga berbadan burung namun berkepala manusia yang dinamakan Kinnara-Kinnari. Pada jalan masuk sebelah dalam di masing-masing dinding yang saling berhadapan terlihat ukiran Dewa Kekayaan, Dewa Kuwera dan istrinya yang dilukiskan sebagai Dewi Hariti, dan suaminya Alawika atau Atawaka atau Raksasa Pancika, yang memiliki banyak anak dan di bawahnya terdapat kendi-kendi penuh berisi uang sebagai lambang kekayaan. Kendi penuh berisi uang adalah salah satu atribut atau benda bawaan dewa kekayaan, Dewa Kuwera. Ini mungkin perlambang pepatah yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Menurut dongeng, pada mulanya kedua suami istri tersebut adalah raksasa atau yaksa pemakan anak-anak. Namun setelah mengenal ajaran Buddha, mereka berubah menjadi pelindung anak-anak. Di Bali, Hariti ini dikenal sebagai Men Brayut, Dewi Kesuburan.
Pada jalan masuk lainnya terdapat ukiran pohon kehidupan yaitu Kalpataru dan makhluk sorga berbadan burung namun berkepala manusia yang dinamakan Kinnara-Kinnari. Pada jalan masuk sebelah dalam di masing-masing dinding yang saling berhadapan terlihat ukiran Dewa Kekayaan, Dewa Kuwera dan istrinya yang dilukiskan sebagai Dewi Hariti, dan suaminya Alawika atau Atawaka atau Raksasa Pancika, yang memiliki banyak anak dan di bawahnya terdapat kendi-kendi penuh berisi uang sebagai lambang kekayaan. Kendi penuh berisi uang adalah salah satu atribut atau benda bawaan dewa kekayaan, Dewa Kuwera. Ini mungkin perlambang pepatah yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Menurut dongeng, pada mulanya kedua suami istri tersebut adalah raksasa atau yaksa pemakan anak-anak. Namun setelah mengenal ajaran Buddha, mereka berubah menjadi pelindung anak-anak. Di Bali, Hariti ini dikenal sebagai Men Brayut, Dewi Kesuburan.
Di dalam Candi Mendut ditemukan tiga buah patung agama
Buddha yang sangat besar ukurannya dan dalam keadaan masih bagus yaitu: Patung
Buddha Sakyamuni setinggi 3 meter di tengah-tengah, yaitu Buddha yang pernah
hidup di dunia, dengan posisi tangan (mudra) memutar roda dharma, sebagai
perlambang kotbah Buddha yang pertama kalinya di Taman Rusa di Benares, dengan
posisi kaki menggantung, tidak bersila seperti biasanya. Di sebelah kirinya
adalah patung Mansjuri atau Vajrapani sebagai Buddha pembebas manusia di kelak
kemudian hari. Menurut Jacques Dumarçay patung tersebut menggambarkan
Lokesvara, Boddhisatva yang menolak menjadi Buddha bila tidak semua manusia
diselamatkan. Sedangkan di sebelah kanannya adalah Avalokiteswara, Buddha
penolong manusia, dengan tanda patung Amithaba di keningnya. Dekat Candi Mendut
ini sekarang didirikan sebuah Vihara Buddha yang megah yang menjadi salah satu
tempat ibadah penting bagi umat Buddha terlebih saat dirayakannya Hari Raya
Waisak setiap tahunnya untuk memperingati tiga peristiwa paling penting dalam
hidup Buddha Siddharta Gautama yaitu kelahirannya, saat Beliau mencapai
pencerahan yaitu menjadi Buddha, dan saat wafatnya.



Mengenai tahun pendirian Candi Sambisari secara pasti belum dapat diketahui, karena tidak adanya bukti-bukti konkret yang mendukung validitas penentuannya. Oleh karena itu, untuk menentukan tahun pendiriannya harus ditinjau dari berapa segi. Dari segi arsitektur, candi Sambisari oleh Prof. Dr. Soekmono digolongkan ke dalam bangunan dari abad ke 8. Sedangkan berdasarkan batu isian yang digunakan di Candi Sambisari yaitu, batu padas, maka masa pendiriannya semasa dengan candi Prambanan, Plaosan, dan Sojiwan sekitar abad ke-9 sampai dengan abab ke-10 M. Jenis batu padas ini banyak terdapat di bukit ratu Boko di Prambanan. Di tempat tersebut nampak bekas-bekas penggalian batu padas pada masa dulu. Berdasarkan kedua tafsiran tersebut, untuk sementara Soediman menempatkan pendidirian candi dalam dekade pertama atau kedua abad ke-9 M (812-838 M). Pendapat tersebut didukung dengan adanya penemuan sekeping daun emas bertulisan, karena berdasarkan tafsiran paleografis, Boechori bahwa tulisan itu berjalan dari sekitar permulaan abad ke-9 M
Seorang arsitek Prancis Jacques Dumarcay, memperkirakan Candi Borobudur didirikan pada jaman kebesaran Dinasti Syailendra pada periode 750-850 Masehi. Masa keemasan Dinasti Syailendra tidak hanya berhasil mendirikan Candi Borobudur melainkan berhasil menjalankan ekspansi di Kekaisaran Khmer di Kamboja. Berhasil menjalankan kerajaan Khmer putra mahkota dibawa ke Jawa dan setelah cukup waktu dikirim kembali ke Kamboja dan menjadi raja bergelar Jayawarman II pada tahun 802 Masehi. Dalam penelitiannya lebih dalam lagi Jacques Dumarcay memberikan gambaran detil bahwa Candi Borobudur dibangun dalam 4 tahap dengan perkiraan sebagai berikut:
Kemenangan Inggris terhadap Belanda dalam memperebutkan Pulau Jawa membawa pengaruh besar terhadap perubahan yang terjadi di Pulau Jawa. Dibawah kekuasaan Pemerintahan Kerajaan Inggris pada kurun 1811 hingga 1816, Sir Thomas Stamford Raffles menjabat Letnan Gubernur di Pulau Jawa. Minatnya yang dalam terhadap kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah kebudayaan Jawa dikumpulkannya dan perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Tahun 1814 ketika melakukan kunjungan kerja di Semarang, beliau mendapatkan kabar tentang keberadaan sebuah monument besar terdapat di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Melalui utusannya HC Cornelius seorang insinyur Belanda berhasil membersihkan lapisan tanah yang mengubur bangunan ini. HC Cornelius melaporkan penemuannya kepada Sir Thomas Stamford Raffles dalam bentuk sketsa Candi Borobudur. Meskipun penemuan ini hanya bersifat awal Sir Thomas Stamford Raffles dianggap berjasa menjadi pemrakarsa atas penemuan kembali monumen ini. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.
Dua tahun setelah Krakatau meletus tepatnya pada tahun 1885 Candi Borobudur kembali menarik perhatian masyarakat umum, melalui Ketua Masyarakat Arkeologi Yogyakarta Yzerman menemukan bagian kaki candi yang tersembunyi. Didasarkan atas penemuan ini, pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan untuk menjaga kelestarian monumen ini, tahun 1900 pemerintahan membentuk komisi tiga yang terdiri dari Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Candi Borobudur mempunyai bentuk bangunan yang tiada duanya di dunia. Bentuk arsitektur tersebut terinspirasi dari filsafat Mikro Kosmos. Banyak ahli menyatakan bahwa Borobudur dibangun pada sekitar abad ke-8 ketika Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra memerintah kerajaannya di Jawa Tengah. Borobudur adalah bangunan yang penuh dengan ornamen yang mengandung filosofi dimana ornamen-ornamen tersebut mempunyai simbol kesatuan dalam perbedaan yang dapat diikuti oleh semua orang untuk mencapai tujuan hidup yang paling mulia. Relief-relief yang terpahat pada tembok-tembok candi menceritakan akan ajaran hidup manusia yang sangat indah. Dengan kata lain, Borobudur adalah jiwa dari seni, budaya dan filsafat.
.jpg)








